SEMARANG, suaramerdeka.com – Himpunan Mahasiswa (HM) Animasi Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) belum lama ini menggelar Animfest Junimasi 2026 di Auditorium Gedung H Lantai 7 Udinus, Semarang.

Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan mengenai dunia animasi sekaligus mempersiapkan talenta kreatif yang mampu menjawab kebutuhan industri animasi nasional hingga internasional.

Acara ini menghadirkan Ketua Umum Asosiasi Industri Animasi Indonesia (Ainaki) sekaligus CEO and Co-Founder PT Kumata Indonesia, Daryl Wilson, yang memberikan pandangan mengenai peluang karier, serta tantangan industri animasi.

Ketua Umum Asosiasi Industri Animasi Indonesia (Ainaki) sekaligus CEO and Co-Founder PT Kumata Indonesia, Daryl Wilson, memaparkan materi dalam kegiatan Animfest Junimasi 2026, yang digelar Udinus. (suaramerdeka.com / dok)

Selain itu, kegiatan ini turut menampilkan tujuh film animasi hasil Tugas Akhir mahasiswa Program Studi Animasi Udinus sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas mahasiswa sekaligus ajang unjuk karya di hadapan sivitas akademika dan pelaku industri.

Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Komputer (FIK) Udinus, Dr. Ir. Pujiono, S.Si., M.Kom., menyatakan bahwa animasi bukan sekadar tentang gambar yang bergerak.

Akan tetapi tentang ide dan kreativitas yang mampu menghidupkan sebuah cerita.

“Jangan hanya bercita-cita menjadi penonton animasi luar negeri, tetapi ciptakan cerita yang justru ditunggu oleh dunia.”

“Pada akhirnya, yang dilihat bukan hanya asal kampus, melainkan portofolio dan karya yang kita hasilkan,” ujarnya.

Ia berharap Junimasi dapat menjadi jembatan yang mempertemukan mahasiswa dengan dunia industri sekaligus membuka peluang karier di masa depan.

Dalam sesi seminar, Daryl Wilson menekankan bahwa di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kemampuan storytelling menjadi kunci bagi animator untuk menghasilkan karya yang relevan dan memiliki daya saing.

Ia juga mendorong mahasiswa untuk terus membangun portofolio, mengembangkan Intellectual Property (IP), serta memanfaatkan media sosial sebagai ruang berkarya.

“Jangan takut kalau karya pertama belum sempurna. Yang terpenting adalah terus mengasah kemampuan bercerita karena itulah kekuatan yang tidak bisa tergantikan,” ujarnya.